鋼 Hagane Reserves
Publikasi

jenis pisau jepang · pisau gyuto · pisau santoku · pisau nakiri · pisau bunka · sewa pisau jepang · sewa pisau · rental pisau jepang

Jenis Pisau Jepang Double-Bevel untuk Chef

3 Agustus 2026

Jenis Pisau Jepang Double-Bevel untuk Chef

Gyuto, santoku, bunka, nakiri, sujihiki — kenali jenis pisau jepang double-bevel dan fungsinya di dapur profesional Indonesia.

# Jenis Pisau Jepang Double-Bevel untuk Chef

Sebagian besar pisau yang dipakai chef setiap hari adalah tipe double-bevel — diasah rata di kedua sisi, lebih mudah dikendalikan, nyaman untuk mendorong, menarik, atau mengayun di atas talenan. Inilah kelompok "generalis" dalam dunia pisau jepang, dibuat untuk bertahan sepanjang shift dengan berbagai jenis bahan, bukan hanya satu tugas spesifik. Berikut pembagian kerja nyata di antara jenis pisau jepang double-bevel yang paling sering dipakai.

Gyuto — andalan harian

Pisau gyuto, biasanya berukuran 210–270mm, adalah padanan pisau jepang untuk chef knife ala Barat, dan biasanya menjadi pisau pertama yang diraih line cook. Protein, sayuran, herba — gyuto menangani semuanya dengan baik, itulah sebabnya dapur yang hanya punya satu pisau jepang biasanya memilih gyuto. Panjang pisau adalah keputusan teknis, bukan soal gengsi: 210mm cocok untuk station yang sempit, 240mm memberi lebih banyak panjang pisau untuk memotong bahan besar, dan 270mm dipilih chef dengan volume kerja tinggi yang butuh panjang ekstra agar mata pisau tetap bebas dari talenan saat menarik panjang.

Santoku dan bunka — mirip, beda di ujung

Santoku (165–180mm) berarti "tiga kebajikan" — daging, ikan, sayuran — dan namanya lahir sebagai alternatif gyuto yang lebih pendek dan datar, mudah dikendalikan baik oleh chef maupun home cook. Bunka berada di rentang ukuran yang sama dan mengerjakan tugas serupa, tapi menukar ujung bulat santoku dengan k-tip bersudut, profil reverse-tanto yang dipinjam dari keluarga kiritsuke. Kebingungan klasik antara keduanya sebenarnya hanya soal ujung ini: k-tip runcing pada bunka memungkinkan chef men-score, menusuk, dan mengerjakan potongan detail yang tidak bisa dijangkau serapi itu oleh ujung bulat santoku. Kalau prep Anda banyak soal garnish dan potongan presisi, bunka lebih berguna; kalau sekadar memotong bahan sehari-hari, profil santoku yang lebih pendek dan datar terasa lebih santai.

Nakiri — spesialis sayuran

Nakiri adalah pisau sayuran double-bevel berbentuk persegi panjang, 165–180mm, dibuat untuk potongan dorong penuh melintasi bawang, kubis, dan umbi-umbian tanpa perlu gerakan mengayun seperti pisau bermata lengkung. Ini adalah versi rumahan dan prep-line dari usuba profesional — tugas sama, geometri lebih toleran, tanpa perlu teknik single-bevel. Dapur dengan prep sayuran berat akan langsung merasakan bedanya sejak shift pertama.

Petty dan sujihiki — presisi dan jangkauan

Petty (120–150mm) adalah pisau paring dan serbaguna milik chef profesional: mengupas, herba, pekerjaan kecil di talenan yang terlalu ringan untuk gyuto ukuran penuh. Sujihiki (240–300mm) berada di ujung skala yang berlawanan — pisau iris double-bevel untuk memotong daging panggang dan memorsi protein dengan tarikan panjang dan bersih. Perlu ditegaskan di sini soal pasangan yang paling sering tertukar dalam keluarga double-bevel: sujihiki vs yanagiba. Sujihiki adalah double-bevel untuk mengiris dan memotong secara umum; yanagiba adalah single-bevel yang didedikasikan untuk sashimi, di mana permukaan datar yang diasah dan cekungan urasuki memberi hasil potongan yang lebih bersih daripada mata pisau double-bevel manapun. Dunia single-bevel ini, termasuk yanagiba dan sepupunya usuba, kami bahas lengkap di artikel tentang pisau jepang single-bevel.

Kiritsuke-gyuto — siluet "kepala dapur"

Kiritsuke-gyuto, atau k-tip, mengambil badan gyuto standar dan memberinya ujung bersudut khas kiritsuke. Bentuk ini menjadi semacam siluet bergengsi di dapur profesional — perlu disebutkan dengan jujur daripada dimitoskan: ini pisau double-bevel dengan ujung dramatis, bukan simbol pangkat seremonial. Kisah status kiritsuke yang sebenarnya kami bahas lebih dalam di artikel tentang bentuk pisau jepang yang tidak biasa.

Spesialis unggas — honesuki, garasuki, hankotsu

Untuk butchery, honesuki (sekitar 150mm, berbentuk segitiga, dengan varian Kanto yang lebih persegi disebut honesuki-kaku) adalah pisau boning unggas standar. Garasuki adalah versi lebih besarnya, sekitar 180mm, dibuat untuk membongkar seekor unggas utuh, bukan sekadar boning per potongan. Hankotsu, lebih pendek dan kaku di sekitar 145mm, dibuat untuk kerja daging gantung. Ini bukan pisau yang dibutuhkan home cook, tapi dapur yang melakukan butchery sendiri akan merasakan bedanya kalau tidak punya.

Pankiri — roti, apa adanya

Pankiri adalah pisau roti bergerigi, 240mm ke atas. Ini satu-satunya pisau di daftar ini yang tidak punya perdebatan soal bevel sama sekali — hanya mata bergerigi panjang untuk memotong kulit roti tanpa menghancurkan remahnya.

Catatan jujur

Geometri double-bevel memang lebih toleran dibanding single-bevel — ini bukan omongan promosi, ini alasan kenapa dapur membangun rotasi harian di sekitar pisau jenis ini. Tapi toleran bukan berarti bebas perawatan: gyuto atau santoku tetap butuh perawatan batu asah rutin agar mata pisaunya tetap tajam, dan melewatkan kebiasaan itu selama beberapa minggu sibuk adalah cara tercepat menghilangkan hasil kerja sang smith.

Hagane Reserves membawa pisau di seluruh rentang ini, termasuk Hatsukokoro Kujaku V-Toku2 gyuto 240mm dan Hatsukokoro Ryuhyo Rainbow SG2 kiritsuke gyuto 240mm — keduanya double-bevel, dibuat untuk kerja harian, bukan pajangan. Setiap piece bisa direservasi untuk satu Reserve period dan dipegang satu Patron pada satu waktu selama berada di dapur Anda.

Hagane Reserves menyediakan **sewa pisau jepang** premium di Indonesia — pisau gyuto, santoku, bunka, dan nakiri double-bevel dipegang satu Patron pada satu waktu. Lihat piece yang bisa direservasi di the Reserves.