Ryuhyo · Hatsukokoro · kiritsuke
Ryuhyo: es yang mengalir, digambar di baja
17 Juli 2026

Setiap musim dingin, laut itu sendiri hanyut seribu kilometer ke selatan menuju Hokkaido. Hatsukokoro menamai pisau ini dari peristiwa itu — dan memulainya dari serbuk baja.
Setiap musim dingin, es yang lahir di Laut Okhotsk hanyut ke selatan hingga mencapai pesisir Hokkaido — es laut paling selatan di Belahan Bumi Utara. Orang Jepang menyebutnya ryūhyō. Selama beberapa minggu, laut itu sendiri yang datang. Itulah nama yang Hatsukokoro berikan pada pisau ini, dan permukaan damascus-nya yang dipoles cermin bergerak persis seperti itu.
Fakta paling tak terduga dari pisau ini: bajanya bermula sebagai serbuk. SG2, dari Takefu Special Steel di Echizen, dibuat dengan mengabutkan baja cair menjadi debu logam halus, lalu memadatkannya kembali — sehingga karbidanya tetap seragam dan kecil. Itulah yang membuat mata pisau bisa dibuat tipis sekaligus keras (62–64 HRC) tanpa menjadi getas. Pisau yang bermula sebagai kabut, membeku menjadi keteraturan — seperti halnya es yang mengalir.
Pelangi di permukaannya adalah logam, bukan cat: lapisan elektroplating di atas damascus yang berubah rona mengikuti arah cahaya. Dan seiring pisau diasah dari tahun ke tahun, baja polos muncul di mata pisaunya — memang dirancang begitu, seperti es laut yang memberi jalan pada air.
Satu hal lagi yang jarang diketahui: profil kiritsuke, dengan ujungnya yang menyudut, secara tradisi adalah satu-satunya pisau yang hanya boleh dipakai kepala dapur. Menyerahkannya ke orang lain dianggap tabu.
Piece ini berada di the Reserves, dipercayakan untuk satu Patron.