鋼 Hagane Reserves
Kembali ke The Reserves
Satoshi Nakagawa Nakagawa x Naohito Myojin, Blue 1 Damascus, Santoku, 180mm, Hoja Custom Amboyna Burl Handle + Saya

Satoshi Nakagawa

Sakai, Osaka (forged) · Tosa, Kochi (ground)

Nakagawa x Naohito Myojin, Blue 1 Damascus, Santoku, 180mm, Hoja Custom Amboyna Burl Handle + Saya

Satoshi Nakagawa forged it in Sakai; Naohito Myojin ground it in Tosa. An Aogami #1 core under polished damascus, in the santoku form — Japan's everyday blade, here made by two of its most honoured hands, and dressed in Indonesian amboyna burl. A piece of the Reserves, held for one Patron at a time.

Para smith, dan proses pembuatannya

Blacksmith — Satoshi Nakagawa (中川悟志), Sakai, Osaka. Enam belas tahun menjadi satu-satunya murid master honyaki Kenichi Shiraki sebelum membuka bengkel tempanya sendiri pada 2021; pada 2023 ia diakui sebagai Dentō Kōgeishi (Perajin Tradisional bersertifikat) — yang termuda sepanjang sejarah penempaan pisau Sakai.
Pengasah — Naohito Myojin (明神直人), Myojin Riki Seisakusho, Susaki, Tosa (Kochi). Generasi kedua rumah asah yang berdiri sejak 1950; pengasah di balik lini Konosuke Fujiyama, dikenal karena asahan yang luar biasa tipis dan presisi.
Baja — Baja karbon Aogami #1 (Blue #1) dari pabrik Yasugi, Shimane — baja putih yang diperkaya tungsten dan kromium agar ketajamannya bertahan lebih lama; 62–63 HRC.
Konstruksi — San-mai: inti baja karbon dibungkus damascus besi lunak, dipoles hingga polanya bergerak mengikuti cahaya.
Karakter — Baja karbon reaktif: akan membentuk patina yang merekam pemakaiannya, dan perlu dilap kering setelah dipakai. Bilah yang hidup.
Mata pisau — Bevel ganda.
Profil — Santoku, mata pisau 180 mm; tinggi 47,7 mm di heel; 150 g.
Gagang & saya — Satu set kayu amboyna burl — burl istimewa dari pohon Pterocarpus indicus, dinamai dari Pulau Ambon di Maluku — dibentuk dan dipasang oleh perajin Indonesia Byan Hoja.

Sang smith menempanya. Anda menguasai meja.

Reserve period
Minimal 2 hari
Tarif sewa
Rp 200.000
per hari
Security deposit
Rp 9.000.000
Sepenuhnya dapat dikembalikan saat piece kembali dalam kondisi yang disepakati
Bagaimana deposit kembali
Reservasi piece iniMasih ragu? Tanya dulu via WhatsApp

Cerita di balik pisau

Di Sakai, tidak ada pisau yang dibuat sendirian. Selama enam abad kota ini membagi keahliannya di antara para spesialis — satu bengkel menempa, satu mengasah, satu memasang gagang — dan setiap orang menghabiskan seumur hidup untuk menguasai satu tahap saja. Piece ini membawa tradisi itu dengan kedua nama tertulis jelas. Penempaan adalah karya Satoshi Nakagawa, yang enam belas tahun menjadi satu-satunya murid master honyaki Kenichi Shiraki, menjaga bengkel tetap berjalan saat gurunya sakit, lalu membuka bengkel tempanya sendiri pada 2021. Dua tahun kemudian Jepang mengakuinya sebagai Dentō Kōgeishi, Perajin Tradisional bersertifikat — yang termuda dalam sejarah penempaan pisau Sakai.

Pengasahannya berpindah ke selatan. Di Susaki, di pesisir Tosa, Kochi, Myojin Riki Seisakusho sudah membentuk bilah sejak 1950; Naohito Myojin adalah generasi keduanya, dan bagi mereka yang mendalami pisau Jepang, namanya pada sebuah bilah berarti geometrinya akan sangat tipis, lurus, dan rata nyaris tanpa cela. Dialah pengasah di balik lini Konosuke Fujiyama — karya yang menjadikan asahannya sebuah tolok ukur. Ketika tempaan Nakagawa bertemu batu asah Myojin, dua tangan paling dihormati di generasinya berbagi satu bilah.

Bajanya Aogami #1 dari pabrik Yasugi di Shimane — baja "kertas biru" yang terkenal, dinamai dari warna kertas pembungkus setiap kelasnya. Ini baja putih yang diperkaya tungsten dan kromium: ketajamannya bertahan lebih lama, tetapi tetap punya rasa tajam yang jernih khas baja karbon. Di sekelilingnya, damascus besi lunak dipoles sampai lapisannya beriak; di dalamnya, inti baja akan perlahan menggelap menjadi patina yang merekam setiap pemakaian. Ia hanya minta satu hal: dilap kering setelah dipakai — penghormatan kecil yang sama yang diberikan dapur Jepang kepada bilahnya selama berabad-abad.

Bentuknya justru sederhana. Santoku — "tiga kebajikan" — lahir di rumah-rumah Jepang setelah perang sebagai satu pisau untuk daging, ikan, dan sayur, dan sampai sekarang menjadi pisau sehari-hari Jepang, bentuk yang ada di hampir setiap dapur rumah. Justru itu yang membuat yang satu ini berani: siluet paling biasa di negerinya, dikerjakan oleh smith Sakai pemecah rekor dan pengasah yang diburu para kolektor. Tinggi di heel dan datar di sepanjang tepinya, ia sanggup mengerjakan semua yang diminta meja — dengan keringanan yang tidak terbaca di lembar spesifikasi.

Lalu piece ini pulang. Gagang dan saya-nya satu set kayu amboyna burl — burl berpola pusaran dari pohon Pterocarpus indicus yang namanya diambil dari Pulau Ambon di Maluku, kayu yang begitu berharga hingga pernah melapisi dasbor Rolls-Royce — dibentuk dan dipasang oleh perajin Indonesia Byan Hoja. Bilah Sakai, asahan Tosa, busana Indonesia dari tangan Byan Hoja: tiga keahlian, tiga tempat, satu piece. Ia dipegang satu Patron pada satu waktu; ketika Reserve period berakhir, ia kembali ke the Reserves — diperiksa, diminyaki, dan disiapkan untuk meja berikutnya yang akan ia pimpin.

Dipercayakan kepada satu Patron, selama satu Reserve period.